7 hours ago with 2,658 notes
originally my-teen-quote

Kepada Tuan #28

Tuan,
maafkan aku bila aku pernah menyakiti dan mengecewakan kamu. Maafkan aku bila aku belum mampu menyeimbangkan kamu. Maafkan aku bila aku masih terlalu jauh dari sempurna dan istimewa untuk kamu.

Dan,
kepada orang tuamu. Maafkan aku bila aku pernah menyakiti dan mengecewakan anak sulungnya. Maafkan aku bila aku belum mampu menyeimbangkan anak sulungnya. Maafkan aku bila aku masih terlalu jauh dari sempurna dan istimewa untuk anak sulungnya.

Selamat Lebaran, Mama-Papa, kamu, dan dua adikmu.


Juli, 28
Maafkan aku, ya.
Elsa Syefira Qhoirunnisa


7 hours ago with 3 notes

Sembuh

Aku pernah mengisap kesendirian bertahun-tahun. Sebab manusia, satu pun tak ada yang bisa dipercaya. Keluarga? Sama saja. Aku punya banyak cerita yang tidak bisa kemana-mana lantaran kemampuan manusia terhenti pada hal-hal yang nyata saja. Aku punya banyak cerita yang terceritakan dalam hal-hal yang tak biasa. Aku perempuan tapi aku merokok, aku memecah kaca, aku menggores lengan dan pergelangan, aku memaki, aku melarikan diri, aku mencelakakan, aku tak makan. Tak biasa tapi nyata, kan?

Kenyataannya, aku punya banyak cerita tapi dibilang sakit jiwa. Ada dokter, ada paranormal. Percayalah, mereka sama sekali tak menyembuhkan tapi Tuhan selalu menyembuhkan. Aku dipertemukan dengan makhlukNya yang kusebut dengan dia. Dia adalah seseorang yang pernah disembuhkan melalui kematian.

Dia tawarkan aku penyembuhan luar biasa. Bukan dengan mantra atau obat-obatan, tapi dengan membawaku menuju dunia yang menggiringnya pada ajal juga. Aku kira aku sendirian tapi ternyata aku punya banyak teman. Teman yang hampir mati konyol dan teman yang ingin sembuh. Inilah. Sembuh bersama-sama ternyata lebih ampuh dari racikan bahan kimia dan mantra. Dan cerita…di sini, tak ada yang tak bisa dipercaya.

Tuhan,
terima kasih banyak. Untuk dia dan teman-temannya.


Juli, 2014
Elsa Syefira Qhoirunnisa


17 hours ago with 3 notes

words-of-emotion:

Good Vibes HERE

19 hours ago with 2,402 notes
originally kushandwizdom

I no longer have the energy for meaningless friendships, forced interactions or unnecessary conversations.
— (via odporny)

19 hours ago with 196,279 notes
originally a--failure

Other people are not medicine.
— It took me 9 years to figure that out (via wanksclub)

20 hours ago with 238,065 notes
originally slutsandsinners

Meski tak bicara, aku tahu kau memperhatikan. Manis, tapi menciptakan luka dalam-dalam, karena aku tahu, bisamu sekadar itu.
— (via kotak-nasi)

20 hours ago with 30 notes
originally kotak-nasi

Tamu Ayah

Tamu menyambangi rumahku saat aku baru berusia lima, saat aku baru mengenal makna tamu sebenarnya. Asing; serupa aku yang dipaksa mengganti rok terusan selutut menjadi celana panjang. Terlebih ketika mata Bunda seperti nggg…ini kali yang disebut melotot - dan nada bicaranya terdengar lebih kuat dari biasanya. Tapi di ranjang kecil itu, adikku menangis sontak. Maka aku harus menenangkannya seperti mula.

Tamu menyambangi rumahku saat aku masih berusia lima. Tamu yang sama seperti beberapa hari lalu. Tamu yang tak lagi duduk, tapi mengambil adikku dari ranjangnya. Bunda melawan, aku melawan. Aku tusukkan sebuah gigitan pada lengannya tapi aku adalah anak kecil yang enteng dilempar kemana saja. Tangis, amarah, pilu, dan lara terpenjara dalam satu ruangan hingga tetangga datang bagai terundang.

Tamu menyambangi rumahku saat aku mulai berusia enam. Aku tidak mendampingi Bunda. Hanya menjaga adik kecilku saja. Supaya ia tidak menangis dan direnggut tamu yang jahatnya bagai raksasa. Tapi gelas tamu itu kosong sebab airnya terhambur di tempat Bunda. Sungguh tampak licin di ubin dan nodanya pada sofa. Tapi Bunda tidak basah maka aku tenang.

Tamu menyambangi rumahku saat aku masih berusia enam. Tamu yang datang di tengah malam. Ketukannya pada pintu tidak dibukakan. Pada jendela pun diabaikan. Aku masih di balik selimut ketika jendela dicongkel tamu. Aku masih di balik selimut ketika Bunda dan tamu berteriak. Tamu itu ayahku. Ia baru pulang setelah satu tahun menghilang. Anak istrinya awam tapi dibiarkan dikejar utang padahal sama sekali tak pernah menyentuh uang dari Ayah.

Tamu menyambangi rumahku setelah itu. Masih menyambangi rumahku. Tetap menyambangi rumahku. Selalu menyambangi rumahku. Tamu yang selalu mencari Ayah tapi menyakiti dan mengancam Bunda. Tamu yang tak berhenti menyambangi rumahku sampai aku lima belas tahun.

Tamu menyambangi rumahku saat aku sudah berusia lima belas tahun. Tamu buta. Maksudku, tamu yang memang bermata buta, ditemani istrinya. Ada selembar catatan dan tanda tangan. Tertanggal 21 Januari 1997, 50.000 Rupiah, tanda tangan Ayah. 1997? Itu sudah beberapa tahun lalu. Bunda membayarkan utang yang tak pernah sampai ke tangan. Untuk pertama kalinya.

Tamu menyambangi rumahku saat aku akan tujuh belas tahun. Seorang renta bercerita tentang hidupnya yang sengsara. Seorang renta berkeluh kepada anak sulung Ayah yang baru akan dewasa. Tentang piutangnya yang dijanjikan nol. Aku tidak akan melunaskan.

Tamu menyambangi rumahku saat aku baru tujuh belas tahun. Di depanku, anak lelaki sembilan tahun dengan celana katung. Kakek renta itu ayahnya dan baru saja meninggal dunia. Kemarin ia melarikan diri dari pesantren demi mengejar Ayah, demi menagih janji yang ayahnya bawa mati.

Tamu menyambangi rumahku sampai saat ini. Sampai aku dua puluh empat tahun. Tapi aku tidak lagi membuka pintu sebab semenjak tamu pertama, Ayah tak pernah ada di rumah. Tuhan, aku tidak akan menerima tamu sampai rumahku benar-benar tak disambangi tamu.


Juli, 2014
Elsa Syefira Qhoirunnisa


21 hours ago with 2 notes

Kepada Tuan #27

Kamu bilang bahwa aku tidak harus punya uang untuk bertemu kamu, lalu bagaimana kalau aku bilang bahwa kamu tidak harus bawa kendaraan pribadi untuk bertemu aku?

Ingat? Kamu pernah khawatir kendaraan kamu akan kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Padahal tidak seharusnya kamu khawatir, Tuan. Kita bisa jalan atau naik angkutan umum. Bahkan aku pikir, tanpa terikat dengan kendaraan pribadi, perjalanan kita akan lebih menyenangkan.

Kenapa? Karena kamu tidak harus berbagi konsentrasi untuk aku dan kemudi. Karena kita akan berada di perjalanan lebih lama. Karena itu berarti, kita punya waktu yang lebih banyak untuk menikmati semua hal: pikiran dan perasaan kita, kehidupan orang-orang di lintasan perjalanan, angin yang mengawini debu, cacatnya aspal dan trotoar, lampu-lampu jalan yang sunyi, dan lainnya, dan lainnya.


Juli, 27
Berani?
Elsa Syefira Qhoirunnisa


1 day ago with 8 notes

I’m becoming more silent these days. I’m speaking less and less in public. But my eyes, god damn, my eyes see everything.
— (via mesmarie)

2 days ago with 143,489 notes
originally c0ntemplations

theme by heloteixeira