Tidak Menyesal

Kepada kamu.

Lisankanlah bahwa aku ini penakut. Nyaliku tak pernah cukup besar untuk membakar janji setia yang disucikan Tuhan. Sebab tampaknya, satu-satunya pilihan dari kesakitan adalah bertahan. Tak apa. Kesakitan adalah lebih baik ketimbang aku bakal dijuluki orang-orang sebagai penggila perselingkuhan.

Kamu bersaksi bagaimana aku bertahan sendiri seolah perempuan yang lebih tabah dari aku, tidak pernah kamu temui. Kesenantiasaan meneguhkan janji pada lelaki yang dicintai banyak bidadari selalu meletupkan cemburu berkali-kali. Meski harus berkali-kali juga aku meredamnya sendiri. Cemburu tak butuh obat. Sekalipun janji telah diikat, cinta pun baiknya dierat.

Pada bola matamu, aku pentaskan betapa dia tak pernah cemburu pada lelaki manapun yang mendekati aku. Termasuk kamu. Barangkali, rasa percaya yang dia tata sudah sampai pada tahap sempurna. Dia masih melindungi aku di saat aku masih selalu merasa, bahwa aku tak lebih dari bara kecil yang tak pernah kuasa mencairkan dinding-dinding es yang membening. Tapi rupanya kamu mengenal dia sebagai karib sebelum aku mengenal dia sebagai patuh terwajib. Katamu, pilihan lain dari bertahan adalah mencintai kamu.

Adakah pilihan yang lebih sulit dari itu? Mencintai kamu itu mudah, serupa gerhana mengalahkan senja, serupa menyembunyikan bintang dari hujan. Katakan, apakah aku harus melawan Tuhan dengan perasaan? Kepada kamu pun seharusnya aku tak berperasaan. Meskipun, kelihatannya, kamu jauh lebih memahami keadaan ketimbang aku yang meniti keadaan. Aku tidak selemah itu. Sekalipun baru-baru ini aku mendengar pengakuan, bahwa dia tak pernah mencintai aku seperti kamu mencintai aku. Bukan karena aku tak sempurna, tapi karena aku adalah wanita. Kamu. Terakhir aku tanyakan pada kamu. Perlukah aku menyesal karena meninggikan janji dan mencintai seorang homoseksual?



Bandung, April 2014
Elsa Syefira Qhoirunnisa


15 hours ago with 8 notes


1 day ago with 1,774 notes
originally tellmeastorylovely

Bertaruh

Betapa hati membuat hidup tampak lebam dimana-mana. Seperti jingganya senja yang menyedihkan, seperti rerumputan liar yang memonopoli pekarangan. Juga seperti, aku mengenal kamu saat sedang melucuti jiwa dari durja. Atau barangkali, kala itu, jiwa kita memang di tengah-tengah embara lalu bertemu di simpang yang sama. Rasa. Lagi-lagi dia yang memegang tahta sedemikian kuasanya. Apalagi, saat bijaknya berkata bahwa bahagia adalah pertaruhan darinya. Kita saling bertaruh. Kira-kira.

Dua rasa menabuh kompromi, terwujud kamu mengajak aku berkawan waktu. Hanya waktu. Tanpa sepengetahuanmu, waktu berkopel tabah. Pandangan menangkap keadaan yang percuma, serupa keberadaannya pada ketanpaanku di dekatmu, serupa pemikiran-pemikiranmu yang tidak lagi selekat dulu memihak aku. Lantas aku marah-marah. Ternyata, waktu tidak membarakan bahagia dengan mudah, karena tabah menengahi langkah. Tapi apa?

Katamu, `tabah sebelum bahagia adalah perlu`.
`Hanya karena aku menunggu?` tanyaku.

Tentu saja. Seluruh pertanyaan yang melayang dari aku adalah gelitik-gelitik kecil yang tidak melempar jawaban kamu. Terima kasih, setidaknya, telingamu pernah disambangi tanda tanya. Setidaknya, waktu masih bersedia membantu kamu mengeja satu per satu jawabannya. Setidaknya, aku masih cukup tabah memenjarakan sengguk yang merambah pada amuk. Waktu membelamu, Kekasihku. Bukan aku. Pantas saja, keseringan sekali aku mendengar kamu mengelu-elukannya.

Sekali saja, kumohon kita putar balik perjalanan. Mengapa aku tinggal dan kamu meninggalkan? Mengapa dua hati dicukupkan untuk kompromi? Mengapa bahagia dipertaruhkan dari cinta yang katanya dipersatukan? Sebentar. Siapa yang sebenarnya bertaruh? Aku saja, kamu saja, atau kita berdua? Demi semesta yang mendampingi perjalananku bertemu kamu, mencintaimu bukanlah kepura-puraanku dan kesetiaanku bukanlah kompromi yang harus lebih dulu kita tanak masak-masak. Aku bertaruh. Kamu?


Bandung, April 2014
Elsa Syefira Qhoirunnisa


2 days ago with 5 notes

But you do.

2 days ago with 9,479 notes
originally ibelongwith-you

Tidak seperti mereka. Kita; adalah hamba dengan yakin masing-masing. Berhenti bicara setia karena ibadah berbeda.

2 days ago with 1 note

Perkaraku bukan mencegahmu untuk jatuh, tapi senantiasa buatmu sembuh.

3 days ago with 4 notes

Rindu yang beranak pinak membuat nafas makin sesak.

3 days ago with 9 notes

Jangan Sedih

Maaf, menamparmu kujadikan pilihan. Tanpa bermaksud untuk melukai, tapi berhentilah memperkosa lukamu sendiri. Aku memahami. Kamu mengenal sakit, maka kukenalkan bangkit. Tahu? Aku tidak tahan mendengar nyanyian kesedihan dari cinta kemarin yang picisan. Maaf, menyinggungmu kujadikan harus. Sebab kenyataan menjadi benar-benar kamu gerus.

Kehilangan tak menyambat lain kehilangan, kecuali pertemuan. Bersyukurlah, aku ada. Aku bukan mengajarkan luka, sebab kamu sudah ulung mengejanya. Aku di sini. Bukan untuk menjadi siapa-siapa, sebab peduli tak peduli siapa. Kamu tidak sendiri dan aku setia.

Ya, tentu saja. Kamu pasti tidak akan percaya sebab pada sedih sendiri, kamu menghamba. Kata habis disantap kuping, laku habis disantap tuding. Sisanya? Melas di atas piring. Tolong, berbahagialah. Aku terluka menyaksikan kamu mendewakan luka.

Kepada kamu yang sedang bersedih.
Dari aku.



Elsa Syefira Qhoirunnisa


3 days ago with 13 notes

Payah

Aku mengenalnya sebagai seseorang. Senyuman ialah duka yang ditamengkan. Aku tidak benderakan perang, tapi di baliknyalah aku bersarang. Pada senyumku pula, kamu terkekang. Keadaan, bukan sebaik-baik keadaan. Kita adalah kadung yang dipersilakan. Ego, kecewa, dan duka dipapah bersama-sama, sampai terima harus senyata apa adanya. Meski, sebenarnya, kita pernah merahasiakan tangis dari mata kita masing-masing. Sebab sebelumnya kita mengerti, tangis bukanlah batas adegan, tertambat rasa mengagungkan peran.

Sampai pada daun mana lagi kita menjatuhkan diri? Diseret gravitasi sampai meresap habis diri. Tertinggal basah, pasrah, pada lapang tanah. Ketahuilah, perpisahan bukanlah arah yang dituju ingin, tapi saling memberi luka adalah arah menuju payah. Maka, kita kini di antara. Cinta mengantarkan kita pada luka, dipaksalah kita mengenalnya. Luka menuntun kita pada asing yang menganga, diputuskanlah menetap atau melesat selamanya. Lalu kediaman, sungguh bukan sebaik-baik keputusan. 

Sekarang milik satu sisi. Bukan lagi kanan atau kiri. Sisi duka adalah dominasi dari tiap luka yang menyibukkan diri. Sepertinya indah menjadi sudah. Maka bergeraklah. Hentikan kita menyantap luka tak berkesudahan, meski sonder masa dihitung singkat pada cerita yang kita lawat.


Bandung, April 2014
Elsa Syefira Qhoirunnisa


3 days ago with 7 notes

Biar aku pandang kamu curi-curi, cukup dalam hatiku kamu lari-lari.

4 days ago with 3 notes

theme by heloteixeira